Melihat Lebih Dekat Aktivitas Perikanan di Perbatasan Barat Kota Tuban
Melihat Lebih Dekat Aktivitas Perikanan di Perbatasan Barat Kota Tuban
Gambar gerbang masuk Unit Pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (UPPPI) Bulu, Tuban yang nampak sepi.
Tuban adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian paling barat laut Provinsi Jawa Timur. Hampir sepanjang daerah Tuban bagian utara di batasi oleh laut lepas. Maka tak heran bila sektor perikanan menjadi salah satu daya tarik dan keunggulan masyarakat Tuban. Dapat dikatakan bahwa Tuban adalah kota yang penuh akan nuansa sejarah dari segala aspek. Tidak terkecuali pada lautnya yang tidak asing lagi bagi kita bahwa Tuban dulu merupakan bekas pelabuhan kerajaan Singasari sampai Majapahit yang merupakan Kerajaan besar pada jamannya. Pelabuhan itu dulunya digunakan sebagai jalur utama dalam distribusi perdagangan dan pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit. Adapun prasasti yang tertulis ditemukan di dinding sumber air tawar berlokasi di pantai Tuban bahwa Adipati Ronggolawe menghadang dan menyerang pasukan tentara Mongol yang akan menyerbu kerajaan Singasari kala itu. Ini membuktikan bahwa laut Tuban memiliki sejarah penting di Nusantara dahulu. Kini pantai yang digunakan sebagai pelabuhan tersebut telah berganti nama menjadi Pantai Boom, yang berlokasi di sebelah utara alun-alun Tuban sebagai tempat berwisata sejarah dan pantai.
Hampir sebagaian besar penduduk Kabupaten Tuban bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. kabupaten Tuban mempunyai luas wilayah sekitar 183,992,291 Ha, yang secara administratif terbagi menjadi 20 kecamatan, 17 kelurahan, dan 311 desa. Dari 20 kecamatan ada 5 kecamatan yang terletak di kawasan pesisir yaitu Palang, Jenu, Tambakboyo, Tuban, dan Bancar. Nelayan di sini merupakan nelayan usaha mikro atau bahkan perkelompok kecil saja. Penulis berkesempatan untuk melakukan interaksi dan melihat langsung aktivitas nelayan di Unit Pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (UPPPI) Bulu, Bancar, Tuban. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Bulu, Tuban memiliki aksesibilitas transportasi yang baik, dimana letaknya berada di poros jalur pantura yang merupakan jalur transportasi dengan nilai ekonomis cukup tinggi di pulau Jawa. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Bulu Tuban berjarak kurang lebih 40 Kmdari ibukota kabupaten ,serta berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.
Sejarah berdirinya Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Bulu, Tuban dimulai berdirinya pada tahun 1993 bernama unit pelaksanaan teknis pelabuhan perikanan ( UPT PP) Bulu Tuban merupakan UPT Dinas perikanan dan kelautan Provinsi Jawa Timur yang pada awalnya pada tahun 1985 adalah pilot proyek pemasaran ikan basah (PPPIB) Jawa Timur yang merupakan proyek bantuan dari MEE. Kemudian pada tahun 1993 MEE menghibahkan kepada Dinas Perikanan Daerah Tingkat 1 Jawa Timur dan berubah nama menjadi badan pengelola pangkalan pendaratan ikan (BP PPI) Bulu berdasarkan surat keputusan kepala dinas perikanan tingkat daerah 1 provinsi Jawa Timur nomer 27 tahun 1993 tanggal 14 april 1993. Dan pada tahun 2010 berganti nama lagi menjadi Unit Pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (UPPPI) Bulu berdasarkan surat keputusan kepala dinas perikanan dan kelautan Provinsi Jawa Timur tanggal 30 april 2010 hingga saat ini.
Pelabuhan dan nelayan sudah menjadi simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Hal ini sangat bermanfaat untuk keberlangsungan aktivitas nelayan baik dalam bongkar muat, manifest keberangkaatan, dan proses perijinan terkait kepelabuhan. Hingga kini suara aspirasi dari nelayan sangat bermanfaat bagi pelabuhan juga. Aktivitas perikanan terus terjadi dan saling berkoordinasi. Di pelabuhan Bulu penulis menemukan banyak sekali aktivitas masyarakat nelayan dari pengamatan langsung banyak nelayan yang sedang menikmati semribit angin laut dengan bersantai di pinggir laut pelabuhan. Banyak juga yang sedang mancing ikan, atau hanya sekedar menenangkan diri dan bermeditasi. Penulis juga melihat warga nelayan yang sedang memperbaiki kapal-kapal mereka yang sedang bersandar di pinggir pelabuhan. Dari narasumber pertama bernama bapak Wignyo seorang nelayan yang berasal dari desa setempat mengatakan bahwa pelabuhan ini tidak seperti dahulu yang sangat ramai oleh pembeli dari dalam daerah sendiri. Namun saat ini para pembeli ikan yang nantinya bakal dijual kembali memilih untuk membeli ikan di luar Bulu, bisa jadi di Pusat Ikan Glondong Tambakboyo, atau Sarang Jawa Tengah. Mengapa demikian, penulis berusaha mengupas lebih dalam dari narasumber pertama bapak Wignyo.
Dampak wabah pandemi, wabah penyakit virus korona juga mempengaruhi aktivitas perikanan di Pelabuhan Bulu itu. Dampak korona sampai saat ini masih terus dirasakan oleh para nelayan bahkan belum tahu kapan akan berakhir wabah penyakit ini. Menurut pak Wignyo, dampak korona sangat terasa dimana biasanya hasil tangkapan ikan ini akan laku terjual. Namun karena adanya sistem lock down di berbagai negara ditambah lagi banyak restoran yang tutup karena adanya Korona ini mebuat ikan kita mengalami penurunan peminat. Namun di sisi lain kami bersyukur bahwa kami masih bisa melakukan aktivitas kami sehari-hari sebagai nelayan dan tidak di lock down lautnya mas, ucap pak Wignyo. Pak Wignyo sendiri begitu merasakan adanya dampak pandemi ini. Bahkan pasar setempat pernah di tutup selama seminggu akibat korona, pada akhirnya ikan mangkrak bahkan ada yang busuk. Ini sangat miris jika pandemi ini terus terjadi dan tidak selesai.
Berbicara masalah wabah penyakit seharusnya kita sudah belajar dari masa lalu sehingga tidak menimbulkan hal yang sangat fatal. Mengingat tentang wabah penyakit pes yang pernah menyerang Hindia Belanda pada masa tahun 1910 bahwa pemerintah Hindia Belanda menyepelekan penyakit ini hingga pada akhirnya Penemuan korban tewas pertama kali dilaporkan pada awal musim penghujan 1910. Sepanjang musim itu sejatinya sudah banyak jatuh korban jiwa tanpa diketahui penyebab penyakitnya. Namun, barulah pada akhir Maret tahun berikutnya, seorang dokter mengirimkan sampel darah dari pasien dari Malang ke laboratorium medis di Weltevreden, Batavia. Hasilnya, terdapat bakteri penyebab pes dalam sampel daerah itu. Sementara itu pemerintah kolonial selalu berdalih tidak ada wabah pes di Malang, melainkan hanya malaria. Laporan korbannya kendati dia menganggap angka itu sengaja direduksi pemerintah. Akibat meremehkan datangnya kasus pes di Malang, pemerintah kolonial terkesiap saat melihat catatan korban pes mencapai dua ribuan orang sepanjang 1911 . Namun semua sudah terlambat . Pemerintah jadi kebingungan, Krisis ini diperparah lantaran dokter-dokter Belanda ternyata tidak bernyali untuk datang ke Malang. Barangkali karena mereka memiliki sejarah kelam terkait wabah pes pada abad ke-14, yang membunuh sepertiga populasi Eropa. Hampir yang mengerjakan itu semua adalah dokter pribumi. Dokter Belanda itu amat sangat takut.
Belajar dari masalah tersebut tentunya kita tidak bisa menyepelekan masalah ini. Ketika munculnya kasus ini di Cina. Pemerintah Indonesia malah selalu memastikan kalau di Indonesia tidak ada yang terjangkit virus ini. Hingga muncul jokes yang mengatakan dukun Indonesia akan bersatu dalam melawan korona jika korona masuk di Indonesia. Seharusnya ini tidak perlu dilakukan, pemerintah cukup bersiap-siap dalam penanganan wabah virus ini secara matang sehingga tidak menimbulkan korban jiwa hingga pada 11 juni tercatat 2000 orang meninggal dunia. Ini hanya sebuah opini bukan mengkritik sok pintar atau bagaimana , namun nyatanya pemerintah Indonesia kurang siap dalam menangani wabah pandemi ini. Namun dalam penanganan turut serta masyarakat yang patuh akan peraturan. Buktinya memang banyak sekali masyarakat yang kurang sadar akan peraturan yang di tetapkan oleh pemerintah.
Penulis berusaha menelusuri lebih dalam tentang orang-orang sekitar yang membeli ikan di pasar pelelangan ikan daerah lain bukan di daerahnya sendiri. Beruntung penulis menemukan tiga informan yang memang sangat membantu informasi ini. Beliau adalah Bu Sutini (64), Bu Asminah (56), dan Bu Yana (39). Di tempat yang berbeda beliau menjelaskan bahwa kenapa membeli di luar daerah mereka bahkan ada yang sampai di Provinsi Jawa Tengah kecamatan Sarang. Alasannya yang pertama adalah harganya yang terlampau cukup jauh mahal di daerah sendiri dari pada di luar. Penulis meihat ikan yang di beli seperti ikan sarden yang di asapi, cumi-cumi, dan tongkol. Jika di jual maka akan lebih mahal lagi belum sampai juga ke konsumen yang mengkritik harga ikan sangat mahal sehingga ikan tidak laku. Kualitas ikan yang di luar daerah Bulu juga lebih bagus dan tahan lama tidak gampang busuk. Informasi ini saya dapat dari Bu Aminah dan bu Sutini yang kebetulan mengambil atau membeli ikan di Sarang , Jawa Tengah. Berbeda dengan bu Yana yang membeli ikan di Glondong Tambakboyo. Beliau mengatakan ikanya sangat murah, yang penting murah. Murah yang utama. Begitu ucap bu Yana. Dengan demikian penulis menyimpulkan kalau memang beliau semua memilih membeli ikan di Luar daerah karena satu alasan yaitu lebih murah.
Kembali menengok kebelakang bahwa pada zaman dahulu industri perikanan terlebih pada zaman orde baru Soeharto semua bahan pangan murah termasuk sektor perikanan. Hal ini dikarenakan memperbaiki kondisi perekonomian dari segala aspek pada masa orde lama yang di ambang kehancuran. Dengan demikian seluruh kegiatan bertumpu pada ekonomi dan terus memperbaiki ekonomi dalam taraf yaang lebih baik hingga pada awal soeharto mengeluarkan kebijakan Repelita atau rencana pembangunan lima tahun yang salah satunya mengarah pada perikanan. Pada repelita jilid dua dijelaskan lebih rinci terkait sektor perikanan. Seoharto melakukan kebijakan untuk mengambil kekayaan alam secara bebas karena ingin membuat rakyat Indonesia merasa hidup nyaman dan damai. Di samping itu hutang dan kebobrokan ekonomi harus segera di tangani.
Pada akhirnya semua akan kembali kepada sebuah sejarah, peristiwa yang dulu pernah terjadi hendaknya dijadikan sebuah pelajaran yang berharga sehingga kita dapat memberikan sebuah jalan keluar dari semua permasalahan. Menyinggung terkait pandemi penulis merasakan apa yang sedang dialami oleh para nelayan khususnya narasumber penulis berharap semoga pandemi cepat selesai dan seluruh aspek kegiatan kembali seperti semula karena dalam kondisi seperti ini semua jadi terhambat. Sedikit beruntung bahwa di sektor perikanan kami para nelayan tidak dilarang untuk melaut, hanya saja perlu menerapkan kesehatan yang sangat ketat, begitu ucap pak Wignyo. Dengan demikian penulis berharap semoga aktivitas perikanan kembali normal seperti sedia kala dan semoga industri perikanan di indonesia semakin menjadi yang terbaik di kancah internasional, sehingga kehidupan para nelayan menjadi makmur dan sejahtera.
Penulis : Slamet Wahyu Tri Utomo (017)
Ilmu Sejarah Unair 2018.

Bagus banget :v
BalasHapus